Tujuh Puluh Tahun Untuk Selamanya!

Bade -  Kemerdekaan Republik Indonesia adalah milik bersama segenap bangsa Indonesia. Kemerdekaan tidak hanya menjadi milik mereka yang mengikuti upacara bendera.

Upacara bendera sebagai peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan memang terbatas dilaksanakan di instansi formal, seperti kantor-kantor dan sekolahan. Dengan demikian warga masyarakat yang berprofesi di luar institusi formal dan sudah tidak lagi menjadi siswa-siswi sekolah pasti tidak pernah lagi berkesempatan mengikuti upacara bendera Hari Kemerdekaan RI tersebut.

Peringatan kemerdekaan Republik Indonesia atau yang kerap di sebut sebagai agenda Pitulasan bagi warga masyarakat Desa Bade, secara tradisi lokal HUT Kemerdekaan RI merupakan sebuah puncak perayaan bersama yang lazim. Setiap tahunnya, masyarakat sudah terbiasa bekerja bakti secara gotong-royong untuk menghias wilayah dusun asing-masing. Gapura sebagai gerbang desa dihias atau diperbarui kembali. Pagar-pagar halaman rumah dicat lagi. Umbukl-umbul dan serba-serbi hiasan bernuansa merah putih di pasang hampir di sepanjang jalanan. Dan semakin mendekati hari-H, setiap rumah mengibarkan bendera merah putih di halaman mukanya.

Tidak terhenti pada persiapan fisik desa, warga juga terbiasa menyelenggarakan aneka ragam perlombaan, baik untuk anak-anak, remaja, hingga para orang tua dan manula dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan. Ada lomba permainan balap karung, menangkap balon, membawa kelereng, memecah balon, makan kerupuk, balap bakiak, lari memindah bendera, memasukkan pensil ke dalam botol, dan lainnya. Ada juga lomba olah raga, semisal jalan sehat, sepeda gembira, bola voli, sepak bola, badminton, tenis meja, catur, termasuk tarik tambang.

Warga masyarakat kaum pria yang terdiri bapak-bapak, para remaja dan pemuda biasanya berkumpul bersama di rumah kepala dukuh ataupun bahkan di tanah lapang untuk begadang sambil merenungkan kembali sekaligus napak tilas kisah-kisah kepahlawanan dalam rangka mewariskan dan menanamkan nilai kejuangan dari generasi tua kepada para penerusnya. Dalam kesempatan tersebut, para sesepuh yang dulu pernah ikut angkat senjata berjuang merebut dan menegakkan kemerdekaan bercerita tentang lika-liku perjuangan mereka.

Semenjak di pagi hari, lapangan utama kecamatan sebagai tempat puncak peringatan 17 Agustusan sudah dibandjiri ribuan warga masyarakat. Di samping kesibukan persiapan untuk melaksanakan upcara, sekeliling lapangan juga dipenuhi dengan pedagang yang menjajakan makanan, minuman, hasil kerajinan, hasil bumi, dan sudah tentu beragam permainan anak-anak dari yang sederhana, tradisional hingga yang yang mahal dan canggih.  Berbagai kelompok kesenian serta potensi seni dan budaya dari Desa Bade menampilkan aksi pertunjukannya.

Berita Terkini