Marning Jagung, Bergizi serta Murah untuk Kesehatan
Selasa 18 April 2017

Bade – Anda generasi X atau yang lahir dan besar di tahun 1990an? Anda pasti tidak asing dengan makanan yang satu ini. Ya, marning jagung. Makanan ini kerap di jadikan sebagai makanan ringan pendamping kopi atau teh di kala sore hari.

Di tengah munculnya berbagai dampak akibat konsumsi makanan tidak sehat pada masyarakat modern saat ini membuat setiap individu mulai sadar akan pentingnya memilih makanan yang memberi sisi positif bagi kesehatan dan pencegahan terhadap beberapa penyakit degeneratif sebagai akibat pola hidup tidak sehat dan konsumsi makanan yang tidak baik. Hal ini memberi sebuah sinyal baik bagi industri kecil ataupun menengah yang memproduksi makanan ringan dengan acuan makanan bergizi dan sehat serta alami, salah satu contoh disini adalah marning jagung ini untuk meraih konsumen yang mulai peduli akan kesehatan.

Sutinah, warga asli Desa Bade ini telah membuat marning jagung sejak muda hingg kini memiliki tiga orang cucu. Dirinya mengaku membuat marning jagung setelah sebelumnya pernah membuat keripik dari ketela dan menjualkannya ke sekolah. Hasil yang didapat tidak terlalu memuaskan sehingga dia memutuskan untuk membuat snack marning jagung. Modal yang dikeluarkan untuk membuat marning jagung ini relatif tidak terlalu besar.

Sutinah yang berusia enam puluh tahun ini, mengeluarkan modal hingga tiga ratus tibu rupiah dalam setiap kali produksi. Modal tersebut digunakan untuk membeli jagung yang telah diambil biji dari bonggolnya dari seorang langganannya serta untuk membeli minyak goreng dan bawang serta bumbu lainnya. Setiap harinya tidak kurang dua puluh kilogram marning kering produksinya dihasilkan setiap harinya. Setiap kilogram marning jagungnya, dia menjualnya dengan harga tiga belas ribu rupiah.

Marning tersebut dibungkus dalam kemasan kecil dengan dua varian rasa, pedas manis serta original. Marning produksinya ini selalu laris dibeli oleh orang pedagang di pasar atau orang yang akan kembali menjual marning produksinya dengan nama sendiri dengan perantara anak menantunya. Sutinah mengaku kerap mendapatkan pesanan dalam jumlah besar namun terkendala pada modal dan ruang untuk produksi marning jagungnya.” Jika ada yang pesan sekian kilogram ya saya layani namun harus membayar di depan karena modal yang saya miliki terbatas,” ujarnya

Dalam produksi marning yang belum di beri nama atau merek dagang ini, Sutinah melakukan di dapur rumahnya yang tidak jauh dari kantor balai desa Bade berukuruan sekitar 3x3 meter. Dalam dapur produksinya ini semua proses pembuatan dilakukannya sendiri dengan cara yang masih tradisional namun tidak menggunakan bahan kimia termasuk menggunakan kompor berbahan  bakar kayu bukan menggunakan kompor gas.“Saya selalu menggunakan bahan alami seperti bawah merah, bawang putih serta cabe untuk menjaga rasa marning ini,”Ungkap Sutinah. Untuk bahan bakar, Sutinah mengatakan membeli dengan harga sekitar empat ratus ribu rupiah per bulan.

Sutinah mengatakan apabila mendapatkan bantuan dari pemerintah atau modal yang cukup layak, dia ingin merenovasi dapur tempat masaknya sehingga dapat memroduksi dalam jumlah besar dan mampu mencukupi pesanan yang datang kepada dirinya.

Berita Terkini