Beramal Sekaligus Meraih Untung Dari Sapi
Selasa 18 April 2017

Bade -   Lengking suara sapi terdengar nyaring dari kandang yang tidak terlalu jauh dari pemukiman penduduk. Dengan sigap lelaki setengah baya yang baru saja melakukan sholat Ashar, memberi pakan ke sapi-sapi itu. Di Desa Bade kecamatan Klego kondisi semacam ini lazim ditemui. Desa yang makmur berkat usaha masyarakatnya dalam berbagai bidang.

Ramto lelaki yang telah berkepala enam itu berjalan menuju kandang sapi di belakang rumahnya, lalu dengan sigap memberikan pakan rumput ke peliharaannya itu. Ia serius dalam bekerja. Sebanyak 16 ekor berbagai jenis termasuk jenis sapi simental (Metal), sapi Peranakan Ongol (PO) atau lebih dikenal dengan sapi biasa serta sapi limusin, berukuran besar mengisi kandang milkinya. Sapi-sapi itu pun langsung melumat makanan yang baru saja disediakan oleh ‘sang empunya’. Penggemukan sapi adalah usaha yang telah berhasil dilakukan Ramto.

Ramto kecil adalah seorang anak desa yang lahir di tahun 1954 di desa Bade. Melihat orang tuanya memiliki ekonomi lemah, Ramto kecil mau tak mau harus berhemat. Segala pengeluaran harus diperhitungkan secara cermat dan detail. Ini yang membuat Ramto selalu perhitungan dalam segala hal.

Ramto kecil perlahan-lahan tumbuh menjadi pemuda desa. Ia lalu bekerja menjadi petani membantu sang ayah yang sudah berganti profesi menjadi petani. Pekerjaan inilah yang membuat hidupnya semakin keras. Panas, hujan, tiap hari ia terima, sehingga tubuhnya semakin hitam.

Ia sadar pekerjaan sebagai petani tak dapat membuatnya bisa berkembang. Ia tetap senang menjalani profesi ini meski tawaran untuk pekerjaan lainnya juga kerap datang padanya. Ramto bertekad untuk menjadi seorang pengusaha

Ramto mencoba untuk berternak sapi. Usaha ini juga berhasil, sapi-sapinya menjadi semakin banyak. Dengan tekun ia rawat sapi itu hingga besar lalu kemudian dijualnya. Uang hasil penjualan sapi lalu ia belikan sapi kembali sebanyak dua ekor. Dari dua ekor menjadi empat, dan akhirnya menjadi puluhan ekor sapi. “Sapi itu uangnya besar, memeliharanya gampang, terus dijualnya juga cepat,” ujar Ramto mengomentari usaha ternaknya itu.

Tak terasa sudah puluhan tahun waktu yang dihabiskan Ramto untuk memelihara sapi, walau sudah memetik hasil Ramto mengakui belum seutuhnya senang. Cita-citanya yaitu selalu menaikkan jumlah sapinya supaya usahanya makin maju. Ramto memiliki pendapat, usaha sapi potong akan makin prospektif karena keperluan daging sapi nasional selalu meningkat. ”Kesadaran penduduk kita untuk memakan daging sudah bagus, itu beresiko bagus untuk peternak seperti kami, ” katanya.

Hambatan menjadi peternak sapi potong memang tetap ada. Kondisi susah yang dihadapi peternak sapi potong seperti Ramto yaitu saat harga daging di tingkat pasar jatuh. Sialnya, tidak banyak terdapat pilihan untuk beberapa peternak untuk keluar dari kondisi ini. Ada yang berminat megikuti jejaknya?

Berita Terkini