Sejarah Desa

Sejarah Desa Bade

Desa Bade termasuk wilayah Kabupaten Boyolali Propinsi Jawa Tengah. Desa Bade terdiri dari 4 Dukuh yakni Dukuh Wates Barat, Dukuh Wates Timur ,Dukuh Pelang dan Dukuh Bade.

Asal-usul penamaan Desa Bade dimulai pada tahun 1950-an, saat Kepala Desa yang pertama Bapak Gito Prayetno sekitar. Pada saat itu, setelah kemerdekaan negara Republik Indonesia para pejabat Desa pada waktu itu menghadiri konferensi yang diadakan Pemerintah Kabupaten Boyolali untuk membahas nama-nama Desa di wilayah Kabupaten Boyolali.

Dalam pemberian nama desa, saat itu kebetulan ada nama desa yang sama di wilayah Kabupaten Boyolali yaitu Desa Wates. Desa Wates yang pertama di Kecamatan Simo, sedangkan  nama Wates yang kedua di kecamatan Klego. Nama desa tersebut agar tidak terjadi berbagai permasalahan di kemudian hari, Desa Wates yang berada di wilayah Klego di ganti Desa Bade.

Secara garis besar sejarah Desa Bade mengalami beberapa pergantian kepemimpinan. Kepemimpinan pertama dimulai pada zaman Penjajahan Belanda atau dengan pemimpinnya yang saat itu lebih di kenal oleh masyarakat dikenal sebagai zaman Raja Wilhelmina. Pada saat itu yang menjadi Kepala Desa adalah Bapak.Gito Prayetno. Pada masa pemerintahan Bapak Gito Prayetno belum di kenal aturan mengenai masa jabatan dan mekanisme pemilihan seperti saat ini, sebelum beliau meninggal dunia memberikan mandat kepada Bapak Puspo Panitro yang pada waktu itu memiliki profesi sebagai petugas penarik pajak Pemerintah Belanda untuk menjadikan Kepala Desa yang kedua. Bapak Puspo Panitro menjabat mulai tahun 1941 -1945.

Pada masa pemerintahan Bapak Puspo Panitro tidak berlangsung lama karena terbukti menggunakan pajak desa yang berupa padi telonan yang disimpan di gudang Den Yono. Masyarakat  yang dipelopori oleh tokoh masyarakat berhasil melengserkan Puspo Panitro. Tak lama setelah masyarakat berhasil menurunkan Bapak Puspo Panitro dari Kepala Desa, pada Hari Jumat masyarakat mengadakan pemilihan Kepala Desa yang diadakan di kediaman Mbah Tu.

Pada saat itu, pemerintah Kaunderan atau yang sekarang lebih dikenal dengan Pemerintah Kecamatan tidak mengijinkan adanya pemilihan kepala desa tersebut. Berkat keberanian dan kegigihan tokoh masyarakat pada waktu itu yang di pelopori oleh Bapak Jumadi dan kawan-kawan hal tersebut dapat diijinkan. Alasan yang dikemukakan oleh Bapak Jumadi kepada Pemerintah Kaunderan (Pemerintah Kecamatan saat ini) adalah penurunan Bupati pada saat itu dapat dilakukan dalam waktu satu hari, mengapa untuk tingkat di bawahnya tidak bisa dilaksanan.

Pemilihan Kepala Desa saat itu masih berlangsung dengan sangat sederhana. Tokoh masyarakat Desa Bade dan pemuda berkumpul membentuk panitia pemilihan dengan izin Pemerintahan Kaunderan (Pemerintah Kecamatan saat ini).  Pada masa itu terdapat empat calon kepala desa yakni Bapak Joyo Karyono, Bapak Harjo Jadim Bapak Wiryo Lumaksi dan Bapak Den Yono. Pemilihan saat itu dimenangkan oleh Bapak Joyo Karyono. Masyarakat masa itu memilih Bapak Joyo Karyono karena Desa Bade pada masa itu banyak terjadi tindak kejahatan atau yang lebih sering disebut sebagai tindakan durjono uro-uro. Setelah Bapak Joyo Karyono memenangkan pemilihan kepala desa, Desa Bade menjadi aman dan terkendali dari pelaku tindak kejahatan.

Secara ringkas dalam bentuk tabel, inilah daftar kepala desa Bade sejak masa pemerintahan Bapak Joyo Karyono hingga saat ini dengan kejadian baik dan buruk pada masa pemerintahannya.

Nama Kepala Desa Kejadian baik Kejadian Buruk
Joyo Karyono(Tahun 1945 sampai tahun 1974) - Tindak Kejahatan (Durjono Uru-uro) berkurang  drastis.
- Membangun Bendungan Panggolo dan saluran irigasi.
- Pembangunan jalan makadam (Onderlah ) Desa
- Membangun Pasar Desa.
- Membangun Lapangan Desa.
- Peningkatan Guyup Rukun warga ,Swadaya masyarakat
- Tahun 1959 Mengalami masa paceklik dan hama tikus.
- Tahun 1963 paceklik dan hama tikus.
- Pada tahun tersebut juga terserang penyakit HO yang meliputi Kecamatan dan Desa.
- Pada Tahun 1965 terjadi Pemberontakan G 30 S PKI.
- Tahun 1965 Hama Wereng
S.Bibit  (Tahun 1974- 1989) - Partisipasi masyarakat meningkat.
- Pembuatan Balai Desa
- Pembuatan SD Inpres
- Pembebasan Tanah Waduk Bade
- Pelebaran Waduk Bade.
- Sertifikatikasi tanah  masyarakat dengan Proyek Nasional Agraria (PRONA)
- Stabilitas Keamanan dan ekonomi baik.
 
Sugijarto (Tahun 1989-1998) - Golkar menang mutlak
- Partisipasi masyarakat meningkat
- Program Sertifikat Swadaya masyarakat (SMS)
- Perekonomian masyarakat stabil.
- Hama Slendep yang merajalela.
- Selama menjabat, hasil panen yang baik 3 kali
Haryono(Tahun 1999-2013) - Pembangunan Jalan Poros Desa Bade-Karanggatak dengan Program PNPM Perkotaan
- Memperbaiki dan memperluas jalan baru.
- Sertifikat masyarakat dg Program SMS
- Pagar Gapuro sadranan makam Sawung Rono
- Betonisasi  jalan  desa Bade
- Sering terjadinya orang kalap di Waduk Bade.
- Sering terjadi Pencurian di kantor desa bade
- Usaha ekonomi masyarakatyang dikelola di Desa yang berbentuk pinjaman banyak yang tidak mengangsur.
Berita Terkini